4. Nilai sikap dan karakter apa yang harus ditumbuhkan pada siswa ketika belajar konsep-konsep dalam ekologi hewan? Berikan contoh riilnya!
Yang harus ditanam pada siswa akan konsep ekologi hewan dimulai dari menumbuhkan rasa sayang kepada satwa. Diberikan pengetahuan tentang satw dan bagaimana ekologi suatu satwa itu dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya diberikan contoh yang ada pada habitat kebun binatang. Disitu kita dapat memperkenalkan tentang ekologi satwa yang ada. Dengan begini kita dapat menanamkan sikap dan karakter mengenai pemahaman konsep ekologi kedalam pikiran siswa itu sendiri.
Jumat, 19 April 2013
6. Apakah manfaat pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi? Berikan salah satu contoh hewan langka, lakukan kajian tentang relungnya. (dalam satu kelas, hewan yang dikaji tidak boleh sama)!
6. Apakah manfaat pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi? Berikan salah satu contoh hewan langka, lakukan kajian tentang relungnya. (dalam satu kelas, hewan yang dikaji tidak boleh sama)!
Manfaat dari pengetahuan tentang relung suatu hewan langka akan membantu sebuah komunitas konservasi untuk membangun habitat yang akan nyaman ditinggali atau ditempati suatu hewan. Dan juga dapat menekan kepunahan dari suatu spesies hewan. Begitu juga dengan burung Enggang yang jumlah populasinya sangat menghawatirkan. Berikut pengetahuan tentang Burung Enggang :
Klasifikasi Burung Enggang :
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Coraciiformes
Famili : Bucerotidae
Genus : Buceros
Spesies : Buceros vigil Forster
Dalam klasifikasi ilmiah, Enggang, merupakan sekelompok burung berparuh tanduk yang masuk dalam keluarga Bucerotidae. Ada sekitar 57 spesies dalam keluarga burung ini yang 10 di antaranya endemik Afrika, sebagian lagi endemik Asia, dan sisanya tersebar di wilayah lain. Burung Enggang dicirikan oleh ukuran tubuh yang besar, kurang lebih dua kali ayam kampung dan memiliki paruh yang sangat besar menyerupai tanduk sehingga dinamakan hornbill, yang berarti ‘paruh tanduk’. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar, dengan suara yang keras serta beberapa jenis memiliki warna tubuh yang mencolok, merupakan burung yang sangat jarang dijuampai. Kelompok burung Enggang (Bucerotidae) mempunyai paruh besar dan kokoh tetapi ringan serta bersifat arboreal.
Enggang tidak termasuk dalam burung “vegetarian” (herbivora). Ia suka menyantap berbagai menu. Dalam daftar makanan hariannya terdiri dari aneka buah (terutama buah beringin/ara (Ficus sp.) dan palem ), serangga, reptil dan burung kecil bahkan tupai.
Enggang suka bersarang di lubang-lubang pohon besar. Namun berbeda dengan kebanyakan burung lainnya, dalam masa mengerami, betina akan mengurung diri selama masa mengerami dan jantan akan setia melayani istrinya, karena enggang dikenal sebagai burung yang setia pada pasangan (monogami).
Saat musim bertelur, betina akan bertelur di lubang-lubang pohon sebagai sarang. Biasanya ia akan menempatkan 1 – 5 telur dalam satu kali musim bertelur. Setelah semua telur ditempatkan sedemikian rupa, maka betina akan menutup lubang pohon dengan lumpur dan meterial lain. Ia kemudian mengurung diri di lubang gelap yang sempit sambil mengerami telurnya. Jantan akan membantu menutup lubang dengan membiarkan sedikit celah sempit. Celah ini digunakan jantan untuk menyuplai makanan bagi betinanya.
Burung enggang gading menyukai habitat hutan yang lebat dengan banyak pohon buah-buahan. Burung enggang gading bertengger di pohon yang tinggi ( upper canopy) dengan ketinggian ±1500 mdl. Burung enggang juga dapat hidup rukun dengan primata di sebuah pohon yang berbuah. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008)
Burung Enggang Gading persebarannya di hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatra serta Malaya Peninsula. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008)
Peranan dari burung ini yaitu karena sangat menyukai buah ara, dimana buah ini merupakan pohon kunci bagi kelestarian satwa liar. Kelompok burung Enggang (Bucerotidae) yang tergolong satwa pemakan buah, berperan dalam penyebaran biji di hutan. Biji-biji tersebar melalui kotorannya karena sistem pencernaan Enggang tidak merusak biji buah. Selain itu, pergerakan Enggang keluar dari pohon penghasil buah membantu menyebarkan biji dan meregenerasi hutan secara alamiah.
Sesuai keputusan Menteri Pertanian dan Kehutanan, burung ini masuk dalam satwa yang dilindungi. Sehingga tidak seorang pun boleh membunuh, menangkap atau memelihara burung yang tergolong satwa lindung ini, dengan ancaman hukuman kurungan dan denda ratusan juga rupiah bagi yang melanggar. Untuk menjaga kelestariannya pemerintah suatu provinsi di daerah kalimantan menjadikan burung cantik ini menjadi mascot daerah, yang melambangkan citra daerah, yang dikagumi dan menjadi lambang kebanggan daerah, sehingga diharapkan partisipasi aktip dari masyarakat untuk turut melestarikannya. Selain pengawasan peredaran dan konservasi, melestarikan hutan dan lingkungan juga merupakan upaya konservasi. Burung yang di Indonesia hanya ada di Kalimantan, dan Sumatera ini kian lama kian menyusut sebab banyak diburu oleh kolektor hewan langka. Untuk dikolektor paruh dari burung ini. Pelestarian Enggang Gading menuntut pelestarian hutan tropika, di Kalimantan tidak sulit meluangkan habitat yang diperlukan burung lambang jati diri propinsi. (Diambil dari buku Jenis-Jenis Fauna Penjati diri Provinsi). Burung Enggang Gading termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang dipertegas dengan SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa yang dilindungi UU dan No. 882/Kpts-II/1992 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa yang dilindungi UU. Departemen kehutanan mengungkapkan burung Enggang Gading tergolong spesies yang mendekati punah dan atau langka.
Sumber : http://bi0green.wordpress.com/2009/02/07/burung-enggang/
Manfaat dari pengetahuan tentang relung suatu hewan langka akan membantu sebuah komunitas konservasi untuk membangun habitat yang akan nyaman ditinggali atau ditempati suatu hewan. Dan juga dapat menekan kepunahan dari suatu spesies hewan. Begitu juga dengan burung Enggang yang jumlah populasinya sangat menghawatirkan. Berikut pengetahuan tentang Burung Enggang :
Klasifikasi Burung Enggang :
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Coraciiformes
Famili : Bucerotidae
Genus : Buceros
Spesies : Buceros vigil Forster
Dalam klasifikasi ilmiah, Enggang, merupakan sekelompok burung berparuh tanduk yang masuk dalam keluarga Bucerotidae. Ada sekitar 57 spesies dalam keluarga burung ini yang 10 di antaranya endemik Afrika, sebagian lagi endemik Asia, dan sisanya tersebar di wilayah lain. Burung Enggang dicirikan oleh ukuran tubuh yang besar, kurang lebih dua kali ayam kampung dan memiliki paruh yang sangat besar menyerupai tanduk sehingga dinamakan hornbill, yang berarti ‘paruh tanduk’. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar, dengan suara yang keras serta beberapa jenis memiliki warna tubuh yang mencolok, merupakan burung yang sangat jarang dijuampai. Kelompok burung Enggang (Bucerotidae) mempunyai paruh besar dan kokoh tetapi ringan serta bersifat arboreal.
Enggang tidak termasuk dalam burung “vegetarian” (herbivora). Ia suka menyantap berbagai menu. Dalam daftar makanan hariannya terdiri dari aneka buah (terutama buah beringin/ara (Ficus sp.) dan palem ), serangga, reptil dan burung kecil bahkan tupai.
Enggang suka bersarang di lubang-lubang pohon besar. Namun berbeda dengan kebanyakan burung lainnya, dalam masa mengerami, betina akan mengurung diri selama masa mengerami dan jantan akan setia melayani istrinya, karena enggang dikenal sebagai burung yang setia pada pasangan (monogami).
Saat musim bertelur, betina akan bertelur di lubang-lubang pohon sebagai sarang. Biasanya ia akan menempatkan 1 – 5 telur dalam satu kali musim bertelur. Setelah semua telur ditempatkan sedemikian rupa, maka betina akan menutup lubang pohon dengan lumpur dan meterial lain. Ia kemudian mengurung diri di lubang gelap yang sempit sambil mengerami telurnya. Jantan akan membantu menutup lubang dengan membiarkan sedikit celah sempit. Celah ini digunakan jantan untuk menyuplai makanan bagi betinanya.
Burung enggang gading menyukai habitat hutan yang lebat dengan banyak pohon buah-buahan. Burung enggang gading bertengger di pohon yang tinggi ( upper canopy) dengan ketinggian ±1500 mdl. Burung enggang juga dapat hidup rukun dengan primata di sebuah pohon yang berbuah. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008)
Burung Enggang Gading persebarannya di hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatra serta Malaya Peninsula. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008)
Peranan dari burung ini yaitu karena sangat menyukai buah ara, dimana buah ini merupakan pohon kunci bagi kelestarian satwa liar. Kelompok burung Enggang (Bucerotidae) yang tergolong satwa pemakan buah, berperan dalam penyebaran biji di hutan. Biji-biji tersebar melalui kotorannya karena sistem pencernaan Enggang tidak merusak biji buah. Selain itu, pergerakan Enggang keluar dari pohon penghasil buah membantu menyebarkan biji dan meregenerasi hutan secara alamiah.
Sesuai keputusan Menteri Pertanian dan Kehutanan, burung ini masuk dalam satwa yang dilindungi. Sehingga tidak seorang pun boleh membunuh, menangkap atau memelihara burung yang tergolong satwa lindung ini, dengan ancaman hukuman kurungan dan denda ratusan juga rupiah bagi yang melanggar. Untuk menjaga kelestariannya pemerintah suatu provinsi di daerah kalimantan menjadikan burung cantik ini menjadi mascot daerah, yang melambangkan citra daerah, yang dikagumi dan menjadi lambang kebanggan daerah, sehingga diharapkan partisipasi aktip dari masyarakat untuk turut melestarikannya. Selain pengawasan peredaran dan konservasi, melestarikan hutan dan lingkungan juga merupakan upaya konservasi. Burung yang di Indonesia hanya ada di Kalimantan, dan Sumatera ini kian lama kian menyusut sebab banyak diburu oleh kolektor hewan langka. Untuk dikolektor paruh dari burung ini. Pelestarian Enggang Gading menuntut pelestarian hutan tropika, di Kalimantan tidak sulit meluangkan habitat yang diperlukan burung lambang jati diri propinsi. (Diambil dari buku Jenis-Jenis Fauna Penjati diri Provinsi). Burung Enggang Gading termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang dipertegas dengan SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa yang dilindungi UU dan No. 882/Kpts-II/1992 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa yang dilindungi UU. Departemen kehutanan mengungkapkan burung Enggang Gading tergolong spesies yang mendekati punah dan atau langka.
Sumber : http://bi0green.wordpress.com/2009/02/07/burung-enggang/
5. Uraikan satu contoh pemanfaatan indikator hewan untuk monitoring kondisi lingkungan secara mendetail, mulai dari jenis, prinsip dan praktik pemanfaatannya!
5. Uraikan satu contoh pemanfaatan indikator hewan untuk monitoring kondisi lingkungan secara mendetail, mulai dari jenis, prinsip dan praktik pemanfaatannya!
Bioindikator petunjuk kondisi alam; bioindikator dapat menggambarkan kondisi alami dari lingkungan yang ada disekitarnya. Kondisi alami ini dapat berupa bencana alam seperti banjir atau letusan gunungapi. Sebagai contoh adalah pada prilaku buaya yang memindahkan sarang dan telur-lelurnya ketempat yang relatif tinggi dan jauh dari badan air atau sungai. Jika hal ini dilakukan buaya maka dapat diindikasikan bahwa air sungai tersebut akan meluap dan terjadi banjir di daerah tersebut.
Bioindikator sebagai petunjuk perubahan kualitas lingkungan; perubahan kualitas lingkungan yang terjadi disini disebabkan karena aktifitas manusia. Pada daerah perairan atau sungai, ikan merupakan bioindikator yang paling baik untuk menunjukkan kualitas air pada perairan atau sungai tersebut. Beberapa jenis ikan terutama yang memiliki warna sisik yang cerah ada terang dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator terhadap pencemaran air. Jika suatu perairan telah tercemar zat kimia terutama pestisida dan logam berat maka warna sisik ikan yang semula terang dan cerah akan berubah menjadi kabur dan tidak jelas. Hal ini terjadi karena sel-sel pembawa warna pada ikan “Cloroflas” akan rusak sehingga warna sisik ikan menjadi pudar karena zat pembawa warna menjadi mengecil. Hal lain yang dapat diamati pada ikan adalah gerakannya. Jika suatu perairan telah tercemar maka akan mengganggu insang ikan dalam proses penyerapan oksigen dalam air, sehingga gerakan ikan menjadi tak beraturan karena insang tidak dapat mengambil oksigen dengan baik.
Blog : http://erfan1977.wordpress.com/2011/08/01/bioindikator-lingkungan/
3. Jelaskan aplikasi konsep interaksi populasi, khususnya parasitisme dan parasitoidisme, dalam pengendalian biologis. Berikan contohnya!
3. Jelaskan aplikasi konsep interaksi populasi, khususnya parasitisme dan parasitoidisme, dalam pengendalian biologis. Berikan contohnya!
Interaksi populasi merupakan suatu interaksi yang dilakukan oleh beberapa populasi yang terdapat dalam suatu lingkungan tersebut, sebagai contoh kecilnya yaitu terjadinya suatu hubungan simbiosis antara burung jalak dan kerbau atau banteng yang terdapat dalam ekosistem hutan. Parasitisme merupak organisme yang dapat hidup dalam suatu inang tertentu namun berukuran lebih kecil dari pada hewan parasit tersebut. Dalam kelangsungan penempelannya ini inang akan mengalami kematian namun dalam jangka waktu yang cukup lama. Berbeda dengan parasitisme, Parasitoidisme merupakan suatu organisme yang hidup menempel atau hidup bersama dengan inangnya namun ukuran dari inangnya tersebut lebih besar ataupun sama dengan ukuran dari parasitodisme dan dapat menyebabpak kematian dalam waktu singkat. Dalam pengembangan pengertian dari interaksi populasi ini dapat disimpulkan bahwa dalam suatu lingkungan pasti terdapat beberapa populasi yang memiliki sifat berbeda dan dapat melakukan suatu hubungan dengan organisme lainya baik secara persaingan ataupun hidup bersama denga relung yang berbeda. Namun dalam hubungannya dengan pengendalian biologis ini dapat dimanfaatkan dalam dunia pertanian yaitu contohnya dalam pembasmian hama yang tidak memerlukan bahan tambahan kimia seperti pestisida yang mana nanti apabila digunakan dalam jumlah yang banyak maka akan menimbulkan kekebalan tersendiri dalam tubuh hama penyerang tersebut. Maka dalam pengertian yang telah dijelaskan oleh sumber dalam literature yang saya kutip diatas maka penggunaan parasitoidisme tersebut dapat digunakan sebagai pembasmi dari parasit yang mengganggu petani tersebut.
Blog : http://andiirmasuryani.blogspot.com
Interaksi populasi merupakan suatu interaksi yang dilakukan oleh beberapa populasi yang terdapat dalam suatu lingkungan tersebut, sebagai contoh kecilnya yaitu terjadinya suatu hubungan simbiosis antara burung jalak dan kerbau atau banteng yang terdapat dalam ekosistem hutan. Parasitisme merupak organisme yang dapat hidup dalam suatu inang tertentu namun berukuran lebih kecil dari pada hewan parasit tersebut. Dalam kelangsungan penempelannya ini inang akan mengalami kematian namun dalam jangka waktu yang cukup lama. Berbeda dengan parasitisme, Parasitoidisme merupakan suatu organisme yang hidup menempel atau hidup bersama dengan inangnya namun ukuran dari inangnya tersebut lebih besar ataupun sama dengan ukuran dari parasitodisme dan dapat menyebabpak kematian dalam waktu singkat. Dalam pengembangan pengertian dari interaksi populasi ini dapat disimpulkan bahwa dalam suatu lingkungan pasti terdapat beberapa populasi yang memiliki sifat berbeda dan dapat melakukan suatu hubungan dengan organisme lainya baik secara persaingan ataupun hidup bersama denga relung yang berbeda. Namun dalam hubungannya dengan pengendalian biologis ini dapat dimanfaatkan dalam dunia pertanian yaitu contohnya dalam pembasmian hama yang tidak memerlukan bahan tambahan kimia seperti pestisida yang mana nanti apabila digunakan dalam jumlah yang banyak maka akan menimbulkan kekebalan tersendiri dalam tubuh hama penyerang tersebut. Maka dalam pengertian yang telah dijelaskan oleh sumber dalam literature yang saya kutip diatas maka penggunaan parasitoidisme tersebut dapat digunakan sebagai pembasmi dari parasit yang mengganggu petani tersebut.
Blog : http://andiirmasuryani.blogspot.com
2. Jelaskan pemanfaatan konsep kelimpahan, intensitas dan prevalensi, disperse, fekunditas, dan kelulushidupan dalam kaitannya dengan penetapan hewan langka!
2. Jelaskan pemanfaatan konsep kelimpahan, intensitas dan prevalensi, disperse, fekunditas, dan kelulushidupan dalam kaitannya dengan penetapan hewan langka!
Intensitas dapat diartikan sebagai kerapatan suatu spesies pada suatu ruang/ wilayah tertentu Sedangkan prevalensi yaitu frekuensi kehadiran suatu organisme pada wilayah/ ruang dan waktu tertentu. Atau bisa juga prevalensi diartikan tentang cacah dan besarnya daerah yang didiami oleh makhluk yang dimaksudkan di dalam kawasan secara keseluruhan.
Disperse merupakan penyebaran suatu populasi. Beberapa tipe penyebarannya adalah seragam, acak, dan acak berkelompok. Biasanya penyebaran ini terjadi apabila setiap populasi telah mencapai tingkat kepadatan, kerapatan tertentu, dan dengan keterbatasan daya dukung lingkungan.
Fekunditas secara umum berarti kemampuan untuk bereproduksi, atau kinerja potensial (kapasitas fisik) suatu populasi. Dalam biologi, fekunditas adalah laju reproduksi aktual suatu organisme atau populasi yang diukur berdasarkan jumlah gamet, biji, ataupun propagula aseksual.
Sehingga manfaat dari ini semua adalah dapat menggolongkan hewan yang akan langka, dengan mengetahu kelipaha dalam suatu komunitas atau populasi. Ini dapat dilihat dari cara reproduksi atau pertumbuhan dari individu. Dari ini ta dapat menerapkan dalam hewan langka dalam upaya konservasinya.
Blog : http://suryaayurahmawati.blogspot.com/2010/12/populasi.html
Intensitas dapat diartikan sebagai kerapatan suatu spesies pada suatu ruang/ wilayah tertentu Sedangkan prevalensi yaitu frekuensi kehadiran suatu organisme pada wilayah/ ruang dan waktu tertentu. Atau bisa juga prevalensi diartikan tentang cacah dan besarnya daerah yang didiami oleh makhluk yang dimaksudkan di dalam kawasan secara keseluruhan.
Disperse merupakan penyebaran suatu populasi. Beberapa tipe penyebarannya adalah seragam, acak, dan acak berkelompok. Biasanya penyebaran ini terjadi apabila setiap populasi telah mencapai tingkat kepadatan, kerapatan tertentu, dan dengan keterbatasan daya dukung lingkungan.
Fekunditas secara umum berarti kemampuan untuk bereproduksi, atau kinerja potensial (kapasitas fisik) suatu populasi. Dalam biologi, fekunditas adalah laju reproduksi aktual suatu organisme atau populasi yang diukur berdasarkan jumlah gamet, biji, ataupun propagula aseksual.
Sehingga manfaat dari ini semua adalah dapat menggolongkan hewan yang akan langka, dengan mengetahu kelipaha dalam suatu komunitas atau populasi. Ini dapat dilihat dari cara reproduksi atau pertumbuhan dari individu. Dari ini ta dapat menerapkan dalam hewan langka dalam upaya konservasinya.
Blog : http://suryaayurahmawati.blogspot.com/2010/12/populasi.html
1. Konsep waktu-suhu yang berlaku pada hewan poikilotermik sangat berguna aplikasinya dalam pengendalian hama pertanian, khususnya dari golongan serangga.
1. Konsep waktu-suhu yang berlaku pada hewan poikilotermik sangat berguna aplikasinya dalam pengendalian hama pertanian, khususnya dari golongan serangga. Jelaskan arti konsep waktu secara singkat, dan berikan contoh ulasannya terkait dengan kasus ulat bulu yang menyerbu tanaman mangga di Probolinggo Tahun 2010.
Jawaban :
2. Suhu tinggi berbahaya
3. Suhu diantara suhu tinggi dan suhu rendah.
Ada pengertian tentang kofisien suhu yang diberi symbol dengan huruf Q10’ misalnya Q10 = 2.5, berarti tiap-tiap kenaikan suhu 1°C menaikkan lau reaksi metabolisme2.5 kali. Sehingga mahluk ektotem/poikiloterm memasukkan sumberdaya dan melaksanakan metabolisme henya secara lambat pada suhu yang rendah, tetapi pada suhu yang lebih tinggi metabolisme akan lebih cepat (Nova,2012).
Faktor abiotik dan biotik dapat memicu peningkatan populasi ulat bulu, khususnya
A. sub marginata pada tanaman mangga. Faktor pemicu utama ledakan populasi ulat bulu adalah perubahan ekosistem yang ekstrem pada agroekosistem mangga. Perubahan ini dipicu beberapa hal, yakni musim hujan yang panjang pada tahun 2010−2011 yang menyebabkan kenaikan kelembapan udara. Suhu yang berfluktuasi berdampak terhadap iklim mikro yang mendukung perkembangan ulat bulu. Abu vulkanik akibat letusan Gunung Bromo, penanaman hanya satu varietas mangga, peralihan fungsi hutan menjadi hutan produksi, dan penggunaan input kimia seperti pestisida dan pupuk ikut menjadi pemicu ledakan populasi ulat bulu (Yuliantoro,dkk, 2012).
Literratur :
JURNAL :
Baliadi, Yuliantoro. dkk. 2011. " ULAT BULU TANAMAN MANGGA DI PROBOLINGGO: IDENTIFIKASI, SEBARAN, TINGKAT SERANGAN, PEMICU, DAN CARA PENGENDALIAN ". Malang http://pustaka.litbang.deptan.go.id
Blogger :
http://novabiological.blogspot.com/2012/04/ekologi-hewan.html
Jawaban :
Pengaruh suhu terhadap kehidupan adalah hal yang paling mudah untuk diamati karena rangsangan akan lebih cepat direspon, karena perubahan suhu dapat dijadikan sebagai acuhan perubahan suatu perkembangan hewan. Pada kasus yang terjadi di daerah Probolinggo pada saat terjadinya peledakan populasi ulat bulu, dikareanakan suhu yang tidak menentu, dan juga musim hujan sehingga mempengaruhi naik turunnya suhu lingkungan tersebut semula suhu lingkungan masih bersahabat dengan perkembangan ulat bulu yaitu sekitar 10-150 C, akibat fluktuasi suhu yang tidak menentu menyebabkan perkembangbiakan ulat bulu semakin meningkat. Pada dasarnya suatu hewan poikiloterm akan melakukan perkembangbiakan lebih cepat pada saat mereka mendapatkan suhu lingkungan yang berada diatas suhu rata-rata hidupnya. Selain dikarenakan dengan suhu yang tidak seimbang yang membuat ulat bulu merasa terancam dengan lingkungnnya, tetapi juga karena telah kebalnya diri ulat bulu terhadap pestisida yang di semprotkan oleh para warga di sebagian populasi. Semakin banyak macam pestisida dengan tingkatan beragam pula dapat menjadikan tubuh ulat bulu tidak rentan atau resisten terhadap racun yang ada. Dan masalah ini yang menyebabkan reproduksi ulat bulu semakin membludak. Peledakan pertumbuhan ulat bulu ini didukung pula oleh faktor alam dan lingkungan yang ada, seperti yang dijelaskan dalam jurnal sebagai literature yang menjelaskan factor lain yang memacu perkembangan ulat bulu adalah jenis dari mangga yang ditanam warga Probolinggo dan abu vulkanik yang diakibatkan oleh ledaakn gunung Bromo.
Begon, dkk (1986) menuliskan bahwa pengaruh berbagai suhu terhadap hewan ektoterm/poikiloterm mengikuti suatu pola tipikal, walaupun ada perbedaan dari spesies ke spesies yang lain. Pada intinya ada tiga kisaran yang menarik perhatian ialah:
1. Suhu rendah berbahaya2. Suhu tinggi berbahaya
3. Suhu diantara suhu tinggi dan suhu rendah.
Ada pengertian tentang kofisien suhu yang diberi symbol dengan huruf Q10’ misalnya Q10 = 2.5, berarti tiap-tiap kenaikan suhu 1°C menaikkan lau reaksi metabolisme2.5 kali. Sehingga mahluk ektotem/poikiloterm memasukkan sumberdaya dan melaksanakan metabolisme henya secara lambat pada suhu yang rendah, tetapi pada suhu yang lebih tinggi metabolisme akan lebih cepat (Nova,2012).
Faktor abiotik dan biotik dapat memicu peningkatan populasi ulat bulu, khususnya
A. sub marginata pada tanaman mangga. Faktor pemicu utama ledakan populasi ulat bulu adalah perubahan ekosistem yang ekstrem pada agroekosistem mangga. Perubahan ini dipicu beberapa hal, yakni musim hujan yang panjang pada tahun 2010−2011 yang menyebabkan kenaikan kelembapan udara. Suhu yang berfluktuasi berdampak terhadap iklim mikro yang mendukung perkembangan ulat bulu. Abu vulkanik akibat letusan Gunung Bromo, penanaman hanya satu varietas mangga, peralihan fungsi hutan menjadi hutan produksi, dan penggunaan input kimia seperti pestisida dan pupuk ikut menjadi pemicu ledakan populasi ulat bulu (Yuliantoro,dkk, 2012).
Literratur :
JURNAL :
Baliadi, Yuliantoro. dkk. 2011. " ULAT BULU TANAMAN MANGGA DI PROBOLINGGO: IDENTIFIKASI, SEBARAN, TINGKAT SERANGAN, PEMICU, DAN CARA PENGENDALIAN ". Malang http://pustaka.litbang.deptan.go.id
Blogger :
http://novabiological.blogspot.com/2012/04/ekologi-hewan.html
Langganan:
Postingan (Atom)

